Senin 27 0ktober 2008
Jam 00 lebih berapa, aku terbangun karena si sulung mengigau. Aku tak begitu ngerti maksudnya
” mi….ndak… masakkk ndak indak..indak…indaaaaaaaak”…
bingung aku, tapi yach namanya ngigau tak terlalu kupikirkan
Tok…tok…tok….
pintu kamar yang kebetulan tak dikunci itu terbuka, emakku masuk dengan mata berkaca-kaca…ada apa pikirku, mungkin ia mendengar suara fauzan mengigau kemudian mungkin untuk memastikan fauzan tidak apa-apa atau sekadar mengecek apa aku sudah pasang elektrik matt apa belum.
Tapi mata itu, ada apa dengannya, sambil menghela napas…….. mungkin sekedar menenangkan hati, hanya satu tarikan tapi hembusannya terasa gundah ku rasa,
” long aki mu meninggal”.
”innalillahi wa inna ilaihi rojiun, aki yang mana mak?” , tanyaku tanpa bisa menyembunyikan rasa terkejutku yang membuatku merinding
” aki taris mu, ayah emak”….
aku hanya ingin memastikan karena memang kedua kakekku dari ayah dan emak masih ada…dan kini seorang dari mereka telah tiada,
”.beliau mengeluhkan dadanya sakit dan terasa sesak dan kemudian tiada” …
aku menyimak betul apa yang dikatakan emak….ayahku kata emak barusan kesana… lalu menghampiri kami ….
” memang sudah saatnya ajal menjemput…toh kita sekarang juga sedang menunggu jemputan…kapan waktunya tak pernah ada yang tau” kata beliau mencoba menghibur….
kami anak dan cucunya hanya bisa berdoa semoga amalnya diterima, diampunkan dosanya….dilapangkan kuburnya….amin
Terakhir aku ketemu aki, pas lebaran pertama dan selalu menyambut kami cucunya dengan hati dan senyuman ceria….tapi waktu itu….kutemukan aki sedikit murung dan ketika kami mengajaknya bicara….ia tidak begitu banyak menanggapi..hanya sekedarnya…
Biasanya aki paling suka bercerita tentang apa saja….terutama tentang kebunnya….entah kenapa waktu itu ia kelihatan tidak bersemangat…..aku tau dari uwan ,panggilan nenekku…..bahwa aki sekarang punya 5 jenis penyakit yang mengalami komplikasi….makan serba salah…karena banyak makanan yang dianjurkan untuk penyakit ini tapi justru pantang buat penyakit satunya….seperti si malakama
Segera ku ambil handphone dan memencet salah satu nomor yang tersave dimemori card…
” assalamualaikum…bang…aki meninggal….”
suara dari seberang pulau itu pun menggucapkan
“ innalillahi………….” …kemudian terdiam…
suara yang selalu kurindu dan kunanti kehadirannya, namun karena suatu hal yang membuat kami terpisah untuk sementara, dan sekarang ia di Jakarta tepatnya di Rawamangun karena sedang mengikuti pelatihan semi militer selama sebulan yang wajib diikuti , tapi sedikitnya aku lega karena jarak Jakarta- pontianak hanya 1 jam pakai pesawat ketimban Surabaya- pontianak…jauh dan mahal pula…
Jadi otomatis tahun ini kami lebih banyak menabung di pundi2 pesawat….
“ Abang titip salam dengan uwan….” dan kuanjurkan ia untuk sholat ghaib….
Aku tahu ia adalah orang yang begitu iba melihat aki, begitu tau aki walau sudah tua masih tetap kerja keras untuk menghidupi keluarganya….tanpa mau menadah tangan pada anak dan cucunya….tapi kami tidaklah tinggal diam….membantu sedikit yang kami bisa
Semoga saja di sana tidak ada yang meratapi histeris kepergiannya, aku cucu tertuanya ikhlas….namun tetap saja mata ini tak bisa kupaksa kering…
ada kenangan di situ….ada kasih sayang itu….ada tangan yang selalu mengayuh perahu untukku….
Tangan yang selalu kupaksa membuat mainan dari pelepah sagu untukku, tangan yang memberiku minyak yang sebelumnya dipanasi sebagai obat, ketika kaki ku menginjak paku besar berkarat, tangan yang mengangkat pukat dan mengambil ikannya untuk kami bawa pulang….tangan yang selalu sedia membuatkan kami sarang burung pipit dari batang bamban….tangan yang membelai lembut kepalaku dan membesarkan hatiku , ketika aku menangis karena tak berhasil mendapatkan satu ikan pun setelah begitu lama memancing, tangan yang tak pernah letih mengayam daun rumbia untuk dijadikan atap, untuk mengganti atap daun di bumbungan rumah yang bocor…
Tak jarang aku juga ikutan mengayam atap untuk di jual, satu atap dengan panjang kira 2 meter yang nantinya akan kami jual satunya 300 rupiah, kalau beli dua atap 500 rupiah…dan tak jarang tangan aki terluka karena terkena pisau saat meraut bambunya, atau terkena duri daun rumbia, entah kenapa waktu itu hidup begitu susah ….dan susah dan kerasnya hidup kudapatkan telah menjadi guratan yang memahat kasar wajah aki ….tapi kami yang kecil manalah tau arti susah….rasanya tak sedikitpun terpikirkan oleh kami…yang ada hanya senang dan senang rasanya
hidup dari alam membuat kami lebih menyenangi mainan buatan sendiri apalagi buatan aki dan ayah ku ketimbang beli…lagi pula mana uangnya….tapi itulah yang menempa kami untuk bisa survive walau mungkin dilepas ke hutan sekalipun, asal beri saja kami pisau dan garam
Setiap pertemuan akan terasa indah karena adanya perpisahan, dan setiap pertemuan pastilah menemui perpisahan….dan telah menjadi sunatullah…dan perpisahanlah yang mengajarkan kita untuk menghargai setiap pertemuan…..dan sepertinya pertemuan dan perpisahan adalah jodoh yang terjeda waktu saja. Bagi yang mengenalku dan pernah berurusan denganku terdapat banyak sekali kesalahan yang kusadari atau mungkin tak kusadari telah menyakiti hati kalian, maka aku mohon maafkanlah aku, mungkin ada hutang piutang yang aku telah lupa tolong ingatkan aku, agar aku membayarnya.sekali lagi maafkanlah aku…….

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.